Sleman – Salah satu media yang dijadikan sumber informasi Kapanewon untuk publik adalah Website (Situs Web) Resmi Kapanewon. Oleh karena itu, Website Kapanewon harus informatif dan memiliki tampilan yang menarik, agar masyarakat dapat lebih mudah mengakses informasi yang dibutuhkan.

Hal tersebut yang digarisbawahi oleh Yudiarto Setiawan, Kepala Seksi Pengelolaan Informasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman ketika menjadi Narasumber pada Pembinaan Pengelolaan PPID di Ruang Rapat Kapanewon Sleman, Rabu (8/9/2021).

“Masyarakat saat ini ketika membutuhkan informasi dari Kapanewon, maka yang dicari pertama adalah website resminya,” ujar Yudi.

Oleh karena itu, Kapanewon harus dapat memperhatikan apa yang ditampilkan di website-nya, baik itu tampilan situs maupun konten.

“Ketika orang membuka situs, itu yang dilihat adalah menarik atau tidak situsnya, dan kelengkapan informasinya,” ungkap Yudi.

Diskominfo Sleman, lanjut Yudi, rutin setiap triwulan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pengelolaan informasi publik yang dilakukan oleh setiap OPD di Kabupaten Sleman, termasuk kapanewon.

Yudi menjelaskan dua indikator besar yang masuk dalam penilaian, yaitu indikator informasi publik dan indikator website. Penilaian website di sini, lanjut Yudi, dilihat dari tampilan dan isi kontennya.

“Tampilan dapat dilihat dari berandanya seperti apa, kelengkapan informasi di berandanya, dan inovasinya,” jelas Yudi.

Beranda di website Kapanewon menurut Yudi harus memiliki informasi dasar seperti nama instansi pemilik web, alamat, nomor telepon, faks, dan alamat surat eletkronik.

“Ketika orang membuka pertama kali, yang dilihat adalah ini website siapa sih, terus kalau mau menghubungi lewat mana. Oleh karena itu, informasi dasar harus ada di beranda,” jelas Yudi lagi.

Selain itu, konten di setiap website OPD termasuk Kapanewon harus selalu diperbaharui. Hal tersebut perlu dilakukan agar masyarakat lebih mengetahui terhadap kegiatan yang dilakukan oleh kapanewon.

Beberapa konten yang harus rutin diperbaharui adalah menu agenda kapanewon, dan kegiatan kapanewon.

“Penyajiannya jangan berbentuk laporan kegiatan, bisa berupa berita yang paling tidak memiliki unsur 5W + 1H (What, Who, Where, When, Why, How). Itu biasanya juga menjadi perhatian masyarakat,” tutup Yudi.