Sleman – Bermedia sosial secara santun adalah kampanye yang tengah digalakkan oleh pemerintah Indonesia. Banyak beredarnya berita tidak benar atau hoax tentu menjadi alasan kuat dibalik berjalannya kampanye ini.

Seperti diketahui, hoax dapat memicu perpecahan bangsa apabila menyinggung soal perbedaan pendapat mengenai sebuah isu. Hoax tersebut paling mudah tersebar melalui media sosial. Karenanya, penggunaan media sosial secara santun bisa mencegah lebih luasnya hoax beredar.

Hal inilah yang juga menjadi perhatian MTs Negeri 6 Sleman. Melalui acara penyuluhan yang dilaksanakan pada Senin (22/5), MTs Negeri 6 Sleman mengundang beberapa narasumberguna memberikan wawasannya terkait bermedia sosial. Mewakili Kepala Sekolah MTs Negeri 6 Sleman, Utaminingsih, M. Pd, selaku Guru Bimbingan Konseling, mengungkap pentingnya bermedia sosial secara sehat bagi siswanya.

“Mereka bisa memahami materi yang disampaikan, mereka bisa berhati-hati, mereka bisa memilih dan memilah info-info yang memang benar-benar benar, kemudian yang tepat buat mereka sesuai dengan umur mereka,” tutur Utaminingsih.

Dalam acara penyuluhan ini, MTs Negeri 6 Sleman mengundang Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sleman yang diwakili oleh Cicilia Lusiani, S.IP., M.Eng, selaku Kepala Seksi Pengelolaan Informasi Publik guna menerangkan materi terkait santun dalam bermedia sosial. Hal yang ditekankan oleh wanita yang akrab dipanggil Lusi ini adalah mengenai etika dalam menggunakan media sosial.

“Jangan mudah percaya pada siapapun, terutama orang-orang yang baru pertama kali adek-adek lihat di Facebook. Jangan sembarangan add juga lho,” jelas Lusi pada siswa kelas 7 dan 9 yang hadir.

Bertempat di Masjid Daarul Adzkiya MTs Negeri 6 Sleman, Lusi menambahkan terkait keharusan siswa-siswi untuk tidak mengumbar data pribadi di media sosial, berpikir masak-masak sebelum memposting pandangannya terhadap sebuah isu, serta tidak secara sembarangan mau diajak bertemu oleh orang yang baru dikenal di media sosial.

“Sekarang kan marak penculikan, yang dijadikan sasaran penculikan itu tidak cuma wanita lho, laki-laki juga, jadi harus tetap hati-hati,” tutur Lusi.

Diskominfo sendiri menerapkan etika bermedia sosial di beberapa akun media sosialnya. Salah satu yang diterapkan adalah mengenai filter 3N+1N dalam bermedia sosial, yaknieducation, empowerment, enlightenment, dan nationalism. Empat filter inilah yang setidaknya digunakan Diskominfo sebelum membagikan informasi kepada masyarakat melalui media sosialnya.

Di kesempatan yang sama, hadir pula perwakilan dari Kapolsek Mlati, Ipda Rohmadi yang membagikan cerita mengenai kenalan remaja yang kerap ditemuinya saat bertugas.

“Banyak siswa SMP yang naik motor ke sekolah, ini juga melanggar peraturan,” jelas bapak dua anak ini.

Dalam sesinya, Ipda Rohmadi juga mengharapkan agar siswa-siswi yang hadir menyadari bahwa banyak kenakalan yang dilakukannya bisa merugikan tidak hanya bagi orang lain tapi juga dirinya sendiri di masa mendatang.