Pemerintah Kabupaten Sleman menerima audiensi dari PT Aplikasi Anak Bangsa Gojek perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta di Smart Room Dinas Komunikasi dan Informatika, Kabupaten Sleman, Jumat (4/10/2019). Kabupaten Sleman dipilih karena PT Aplikasi Anak Bangsa GOJEK melihat pemerintahnya memiliki potensi untuk bisa berkolaborasi dalam mewujudkan smart regency (kabupaten cerdas).

“GoJek berkembang dari tahun 2010 yang saat itu masih di dalam negeri hingga sekarang bisa sampai ke luar negeri seperti Thailand, Vietnam, dan Singapura. Mimpi besar GOJEK adalah menyediakan kecepatan, inovasi, dan migunani (berguna). Semua produk bisa berguna untuk masyarakat dari sisi apapun,” papar Syaiful, Hubungan Pemerintahan DIY-Jateng Gojek.

Dalam audiensi ini, Syaiful memaparkan beragam layanannya yang bisa dikolaborasikan dengan program Pemerintah Kabupaten Sleman. Misalnya GoGlam (layanan kecantikan), GoFood (layanan pemesanan makanan), GoMassage (layanan pemijatan), GoClean (layanan membersihkan rumah), dan GoAuto (layanan montir) yang mendukung smart economy dan punya potensi dikolaborasikan dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian penduduk dan Keluarga Berencana dan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah.

Selanjutnya ada GoCar (layanan transportasi penumpang dengan mobil) dan GoRide (layanan transportasi penumpang dengan sepeda motor) yang bisa bersinergi dengan Dinas Perhubungan, Dinas Pendidikan, dan Dinas Kesehatan dalam mewujudkan mobilisasi.

Adapun Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Dinas Komunikasi dan Informatika yang mengusung smart living dan smart branding, Gojek menawarkan GoPay (layanan pembayaran digital) dan GoTix (layanan penjualan tiket). Selain itu Gojek masih punya GoBills (layanan berbagai pembayaran) yang mendukung smart governance.

Sejauh ini, Gojek menyatakan telah memberikan dampak bagi Yogyakarta dalam bentuk rata-rata pendapatan pengemudi di atas UMK, jumlah mitra GoFood di Sleman sudah mencapai angka ribuan, ratusan mitra GoTix dengan rentang usia 17-55 tahun, serta ramah untuk mitra Gojek yang difabel.

Mae Rusmi, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman memaparkan bahwa beberapa PKL (pedagang kaki lima) dan 4 pasar sudah pernah melakukan koordinasi dengan Gojek seperti Pasar Gentan, Cebongan, Ngijon, dan Kalasan. Di Pasar Gentan sudah ada shelter untuk penumpang yang mau naik Gojek namun perlu diperbaiki kembali dengan diberi papan petunjuk info, pelatihan marketing, dan peningkatan kapasitas pedagangnya yang tujuannya agar pasar tradisional bisa diminati oleh kaum millenial.

“Untuk GoMart bisa dilakukan namun perlu adanya penjajakan terlebih dahulu dengan pedagang yang bisa diikutkan. Keuntungan dengan GoMart pasar memang menjadi sepi tapi transaksi tidak sepi, pasar jadi bersih karena tidak semua orang masuk, keamanan lebih gampang, timbal balik banyak tapi saat ini itu masih berjalan pelan,” ujar Mae Rusmi.

Sedangkan GoMassage yang menawarkan spa disebut sangat prospektif di Sleman karena wisatawan datang dalam kondisi capek, namun kadang layanannya tidak memuaskan, maka perlu ada sertifikasi atau standar layanan. Selain itu terkait GoRide dan GoCar keluhan wisatawan adalah wisatawan yang berlibur ke daerah pingggir Sleman seperti Kaliurang dan Cangkringan bisa berangkat dengan mudah, tapi pulangnya sulit mendapatkannya sehingga perlu dilakukan pemetaan di titik perbatasan desa dan kota dengan mendirikan shelter Gojek

Eka Suryo Prihantoro, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika turut memberikan tanggapan terkait dengan kolaborasi dengan Gojek ini. “Nantinya tetap harus berkonsultasi untuk mendapatkan izin dari atasan, dan  ke depannya akan mengundang Gojek kembali untuk bertemu dan membahas MoU bersama Bupati Sleman,” pungkas Eka.(Rep Anis)