Sleman — Dinas Kominfo Sleman menggelar kegiatan Workshop dan Evaluasi Pengelolaan Aduan Triwulan I, sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui sistem pengaduan masyarakat yang lebih responsif dan akuntabel, Rabu (15/4/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Pagelaran Puri Mataram tersebut diikuti oleh para sekretaris dinas dari masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kepala bagian (kabag), panewu anom se-Kabupaten Sleman, PDAM, Bank Sleman, Bank Sleman Syariah, serta wakil direktur RSUD Sleman dan RSUD Prambanan.

Kepala Dinas Kominfo Sleman, Budi Santosa mengatakan kegiatan workshop tersebut memiliki peranan penting dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan aduan di Kabupaten Sleman.

Workshop ini juga menjadi forum strategis untuk meninjau kinerja pengelolaan aduan selama triwulan pertama tahun 2026, sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi dalam proses penanganan laporan masyarakat.

Dalam evaluasi tersebut, dibahas capaian penyelesaian aduan, kecepatan respons, serta kualitas tindak lanjut yang diberikan oleh masing-masing OPD.

“Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, monitoring dan evaluasi (monev) tetap memiliki peranan penting dalam mengukur kinerja kita dalam pengelolaan pelayanan aduan dan monitoring media,” ujarnya.

“Selanjutnya monev yang kami rekap adalah monev yang terkirim di Dinas Kominfo. Jadi selama tiga bulan terakhir yang dikirimkan ke Kominfo. Kami rekap merekap aduan yang masuk ke Dinas Kominfo lewat kanal yang dikelola oleh Kominfo, kemudian kami distribusikan, terus direspon balik,” sambung Budi.

Selanjutnya, workshop kali ini menghadirkan narasumber seorang praktisi dari Fakultas Psikologi UGM, Noor Siti Rahmani yang membahas materi terkait kiat mengelola emosi dalam menghadapi aduan, serta sikap terhadap masyarakat, dan rekan kerja di kantor.

Pada kesempatan itu, Noor menjelaskan isi hati dapat memengaruhi cara memandang diri dan cara memandang orang lain. Dalam hal ini, ia menjabarkan empat jenis kelompok cara memandang diri dan orang lain, yaitu 1) I’m not ok- you’re not ok; 2) I’m not ok – you’re ok; 3) I’m ok – you’re not ok; 4)  I’m ok – you’re ok.

Dari keempat jenis kelompok tersebut, kondisi I’m ok – you’re ok menjadi kunci sukses menyelesaikan masalah atau mengelola aduan. Pasalnya ketika diri sendiri baik dan orang yang tengah diberikan layanan juga dalam kondisi emosi yang baik, maka kesepakatan atau solusi akan muncul.

“Penyelesaian masalah itu win-win solution. Ini hanya bisa terjadi apabila kedua belah pihak ada di posisi nomor empat (I’m ok – you’re ok). Keberhasilan akan bisa terjadi apabila kedua pihak bisa saling menghargai. Untuk itu, Jangan menilai orang dari penampilannya. Kedewasaan itu tidak membeda-bedakan orang,” ujar Noor.

“Jadi Bapak Ibu kita dalam menghadapi masyarakat atau melayani masyarakat, kita harus tetap pada nomor empat. Apapun keadaannya kita harus tetap professional,” sambungnya.

Selain materi, peserta workshop juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman terkait praktik baik (best practice) dalam pengelolaan aduan di masing-masing instansi. Hal ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam meningkatkan kinerja pelayanan di seluruh OPD.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Sleman berharap pengelolaan aduan masyarakat dapat semakin efektif, transparan, dan berorientasi pada penyelesaian masalah, sehingga mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.

Views: 0