Mengacu pada SNI ISO 37122:2019, standar indikator kota cerdas harus memberikan percepatan perbaikan pelayanan dan kualitas hidup masyarakat. Untuk itu, guna memaksimalkan pelayanan publik dalam tata kelola sumber daya daerah, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Dinas Kominfo Kabupaten Sleman secara rutin melaksanakan evaluasi Smart City melalui program Gerakan Menuju 100 Smart City.

Bertempat di Smart Room Kantor Diskominfo Sleman, evaluasi program Smart City dilangsungkan secara virtual melalui Zoom Meeting bersama perwakilan OPD dan BUMD se-Kabupaten Sleman, Rabu (9/6/2021).

Teddy Sukardi selaku pembimbing dari Kemenkominfo menyampaikan, evaluasi dapat memberikan manfaat yang maksimal dengan memperhatikan sejumlah persyaratan. Evaluasi harus objektif dan bebas dalam pengumpulan fakta data terukur, menganalisis, menyimpulkan, dan melaporkan.

Mengingat program ini masih terbilang baru dan beragamnya kondisi masyarakat, membuat tidak semua inovasi Pemerintah dapat diterapkan dengan mudah. Diperlukan upaya kemitraan dari Dewan Smart City dan akademisi untuk membaca peluang. Dengan begitu, dampak inovasi pada masyarakat dapat dirasakan secara nyata.

Teddy menambahkan, manajemen risiko menjadi bagian penting dari evaluasi Smart City. “Form manajemen risiko berbentuk Excel seakan mengharuskan Pemda melakukan identifikasi dan mitigasi risiko. Hal itu agar kita memiliki kesiapan merespon hambatan,” jelasnya.

Formulir manajemen risiko memungkinkan Pemda mengidentifikasi faktor, penyebab, dan tingkat kemungkinan. Selain itu, pada analisis risiko, penting untuk memasukan tingkat kemungkinan risiko berbentuk angka 1, 2, 3 yang menunjukan tingkatan rendah, sedang, dan tinggi. Hal itu dapat menjadi dasar mitigasi risiko yang bersifat strukrural maupun nonstruktural seperti kebijakan.

“Evaluasi ini harusnya dilakukan berkala dan melibatkan masyarakat dalam program-programnya. Saya menekankan inovasi yang dibuat sebisa mungkin sederhana dan bermakna pada masyarakat,” pungkas Teddy.

Kepala Dinas Kominfo Sleman, Eka Suryo Prihantoro mengungkapkan beberapa tantangan yang dihadapi Kabupaten Sleman dalam mengimplementasikan penerapan Smart City, misalnya program Free Wifi.

“Pada program Free WIFI untuk 1.212 padukuhan di Sleman mengalami tantangan infrastruktur, mengingat lokasi titik WIFI beragam mulai dari area perkotaan, pedesaaan, pegunungan, tercover provider dan tidak. Sehingga diperlukan upaya evaluasi,” ungkap Eka.

Mewakili dimensi Smart Economy, Kepala Seksi Pengembangan Usaha Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman, Emmy Kurnia Budianti turut menyampaikan perkembangan Layanan Rumah Kreatif Sleman (RKS) sebagai program unggulannya.

“Untuk indikator keberhasilan Smart City untuk jangka menengah tahun ke-5 tergabung dan terbedayanya 1000 UMKM sudah tercapai. Capaian RKS, ada 2372 mitra IKM yang telah tergabung,” jelasnya.

Ia menambahkan, capaian pembinaan pelatihan online 2021 telah digelar 114 kali dengan berbagai jenis kelas seperti Mentoring, Bimtek, Berbagi, dan Sinergi.

Sejumlah kendala tak luput menghadapi pelaksanaan inovasi ini. Menurut Emmy, kendala tersebut antara lain keterbatasan anggaran, sumber daya manusia, lokasi, kelembangaan. Namun, upaya manajemen risiko Rumah Kreatif Sleman seperti optimalisasi pembinaan online, promosi influencer, peningkatan keterlibatan ASN dan non-ASN mendapat apresiasi dari Kemenkominfo.

“Keterbatasan bukan menjadi alasan dalam memberikan layanan, harus ada upaya lain. Meski begitu kami belum puas dengan layanan saat ini. Harapannya jangkauan kemampuan layanan kami sekain besar,” pungkasnya. (Rep Afiqa)