Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman terus memperkuat semangat kemerdekaan melalui berbagai langkah yang menyentuh aspek kebangsaan, kesiapsiagaan menghadapi bencana, serta pelestarian dan pengembangan kebudayaan. Semangat tersebut terangkum dalam jumpa pers Dinas Kominfo yang bertema “Sleman: Merdeka, Siaga, Berbudaya”.

Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Kabupaten Sleman, Sri Wahyuni Budiningsih mengatakan, peringatan kemerdekaan tahun ini mengkolaborasikan semua program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh perangkat daerah. Sehingga peringatan kemerdekaan tersebut tidak hanya dimaknai melalui kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai momentum memperkuat kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

“Sesuai dengan tema besar yang diangkat oleh pemerintah pusat yaitu Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur, kami mencoba untuk mengolaborasikan semua program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh perangkat daerah. Kami sinergikan yang bisa dilaksanakan di bulan Agustus itu dikolaborasikan secara optimal, saling bergandengan tangan antar OPD supaya kegiatan yang sama tetapi bisa dilaksanakan dengan lebih meriah, dengan lebih banyak audiens atau masyarakat yang kemudian bisa menikmati manfaatnya,” ujarnya kepada awak media di Aula Unit 1 Kesbangpol, Selasa (11/8/2026).

Merdeka: Menyiapkan Generasi Berkarakter dan Berjiwa Pancasila

Semangat kemerdekaan salah satunya tercermin melalui pembentukan Paskibraka Kabupaten Sleman Tahun 2026. Setelah melalui rangkaian seleksi berlapis, ditetapkan 38 anggota Paskibraka yang terdiri atas 19 putra dan 19 putri. Mereka menjalani pemusatan pelatihan sejak 21 Juli hingga 13 Agustus 2026, dilanjutkan masa karantina pada 14–18 Agustus 2026.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sleman, Muhamad Aji Wibowo mengatakan selama masa karantina, calon Paskibraka Kabupaten Sleman tersebut akan dikukuhkan dan masih mengikuti rangkaian pelatihan di asrama yang telah disediakan.

“Usai dikukuhkan, para anggota Paskibraka akan terus menjalani pemantapan dan persiapan hingga pelaksanaan tugas, baik itu dari fisik, mental, kekompakan, kedisiplinan, serta ketepatan dalam setiap rangkaian gerakan yang menjadi perhatian utama pada saat nanti pelaksanaan upacara 17 Agustus di Lapangan Denggung,” tutur Aji.

Ia menegaskan bahwa Paskibraka bukan sekadar pengibar bendera, tetapi Duta Pancasila, yang diharapkan mampu menjadi teladan bagi generasi muda, baik itu di lingkungan sekolah maupun di masyarakat.

Dari proses seleksi tersebut, Aji mengatakan bahwa tujuh wakil Sleman berhasil lolos di tingkat Provinsi DIY, dan satu orang peserta berhasil lolos hingga tingkat nasional yaitu Ahmad Raditya dari SMK Penerbangan AAG Adisutjipto.

“Capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Sleman sekaligus menunjukkan bahwa proses pembinaan generasi mudah di daerah mampu melahirkan putra-putri yang berprestasi dan memiliki daya saing hingga ke tingkat nasional,” pungkas Aji.  

Sebanyak 38 anggota Paskibraka Sleman dijadwalkan mengemban tugas pengibaran dan penurunan Bendera Merah Putih pada upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2026.

Siaga: Antisipasi Kekeringan di Tengah Puncak Musim Kemarau

Sementara itu, kesiapsiagaan menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Sleman menghadapi potensi kekeringan. Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau berlangsung hingga Dasarian I November 2026 dengan puncak kemarau pada Agustus. Kabupaten Sleman juga telah mendapatkan peringatan dini kekeringan meteorologis kategori Siaga.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro pada kesempatan yang sama menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, mulai dari pemetaan wilayah rawan, pemutakhiran data, koordinasi lintas sektor, hingga kesiapan sarana distribusi (dropping) air bersih.

“Ini yang menjadi perhatian kita, sehingga tadi pagi kita bersama dengan semua stakeholder TNI, Polri, Baznas, PMI, teman-teman relawan, kemudian Damkar, Satpol PP, BMKG, BBKG, juga BMGM, melaksanakan Apel Siaga Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan). Tidak menutup kemungkinan kebakaran pemukiman yang meningkat intensitasnya akhir-akhir ini,” jelasnya.

“Kita juga berkolaborasi dengan semua stakeholder yang ada. Kemudian kita juga mempersiapkan anggaran kita untuk dropping air,” sambung Bambang.

Ia menegaskan bahwa Pemkab Sleman melalui BPBD sejak awal melaskanakan kesiapsiagaan melalui pemantauan kondisi, pemetaan wilayah rawan, penyiapan sarana dan logistik, serta koordinasi dengan berbagai pihak.

BPBD Sleman telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan yang berlaku 1 Juli hingga 31 Agustus 2026. Pemerintah juga menyiapkan armada tangki air serta melakukan pendataan wilayah yang memiliki riwayat terdampak kekeringan.

“Untuk kekeringan ini, Bupati Sleman sudah mengeluarkan SK Siaga Darurat, nomornya 59.1/Kep.GAY/2026, mulai tanggal 1 Juli sampai dengan tanggal 31 Agustus (2 bulan). Kalau nanti dua bulan ini parah, bisa ditingkatkan/dinaikkan statusnya menjadi Darurat. Kita masih Siaga, kalau parah ke Darurat. Tetapi kalau nanti ini masih seperti ini, masih bisa terkendali, kita tetap nanti perpanjang statusnya Siaga Darurat Kekeringan,” pungkas Bambang.

Penanganan juga dilakukan secara lintas sektor. Di Girikerto, Turi, misalnya, pemerintah bersama berbagai pihak melakukan dropping air bersih sejak April 2026. Hal itu disebabkan sumber mata air di Hulu Sungai Krasak tepanya di puncak Gunung Merapi mengalami keruntuhan material.

“Sehingga kita gotong royong bersama, debit air menurun, kemudian kita dropping air. Waktu itu kita dropping sebanyak 4 kali ke sana. Selesai itu pembenahan, airnya mengalir berjalan dengan baik, dan dropping bulan April,” jelasnya.

“Kemudian bulan Agustus. Nah ini yang mata air di Krasak ini kembali jadi masalah, karena sumber airnya/mata airnya berkurang, debitnya berkurang sepertiga. Ini menyebabkan intensitas air yang dialirkan kepada masyarakat di bawah ini semakin berkurang. Sehingga beberapa hari kita dropping. Sudah delapan kali kita dropping ke sana selama Agustus ini, sekitar 5.000-40.000 liter air,” tandas Bambang.

Berbudaya: Merawat Identitas dan Menghidupkan Kebudayaan

Aspek ketiga dalam semangat “Sleman: Merdeka, Siaga, Berbudaya” adalah penguatan kebudayaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Kepala Bidang Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Dekhi Nugroho menyampaikan bahwa kebudayaan perlu terus dihidupkan melalui ruang partisipasi masyarakat, seni, tradisi, serta kegiatan yang mempertemukan pelaku budaya dengan masyarakat. Untuk itu, Dinas Kebudayaan Sleman pada bulan ini menyelenggarakan sejumlah kegiatan, yaitu Festival Lomba Lukis Giro, Peringatan Hari Bersejarah Keistimewaan Yogyakarta di Monjali, lomba film documenter pelajar.

“Festival Lomba Lukis Lukis Giro, yang nantinya akan dilaksanakan pada tanggal 23 Agustus di Museum Gunungapi Merapi. Tujuan kegiatan adalah memberikan wadah kreativitas, meningkatkan apresiasi seni rupa anak, serta memperkuat hubungan kerja sama diplomasi budaya antara Pemerintah DIY dengan Pemerintah Prefektur uh Jepang,” pungkasnya.

“Kemudian di bulan yang sama, yaitu bulan Agustus ini, ada Peringatan Hari Bersejarah Keistimewaan Yogyakarta, yang akan dilaksanakan pada Jumat, 21 Agustus jam 18.30 di Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali). Agenda utamanya ialah sarasehan bertema Keistimewaan DIY: Sinergi Sejarah, Budaya, dan Tata Kelola Pemerintahan, dengan menghadirkan tiga narasumber dari unsur pemerintahan, akademisi, dan budayawan yang akan mengulas Keistimewaan DIY dari berbagai perspektif,” sambung Dekhi.

Views: 0