SIARAN PERS
DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA KABUPATEN SLEMAN
NO.10/KOMINFO/2025
PERAN TIGA PILAR DALAM PENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN SLEMAN
Sleman, 17 Februari 2025 – Kualitas pendidikan mencerminkan kecerdasan dan kesiapan dari suatu generasi dalam menghadapi tantangan global. Pendidikan pun menjadi fondasi utama dalam pembangunan bangsa. Untuk mencapai mutu pendidikan yang optimal, pelbagai tantangan harus dihadapi dengan langkah yang strategis.
Terkait hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Ery Widaryana mengatakan bahwa pembangunan pendidikan di Kabupaten Sleman didasarkan pada tiga pilar utama, yaitu pemerataan peningkatan layanan pendidikan, peningkatan mutu pendidikan, dan penguatan tata kelola pendidikan. Untuk poin pertama, Ery menegaskan bahwa seluruh masyarakat Kabupaten Sleman harus bisa mengenyam pendidikan, dan layanan pendidikan itu sendiri patut untuk dipermudah sekaligus ditingkatkan kualitasnya secara merata.
“Tiga pilar pembangunan pendidikan yang pertama adalah pemerataan ataupun peningkatan pemerataan layanan akses pendidikan. Jadi pemerataannya itu meningkat, semua mendapatkan akses layanan, dalam bahasa kasarnya semua anak usia sekolah harus bisa sekolah,” ungkapnya.
“Kedua, peningkatan mutu pendidikan. Jadi tidak sekedar peningkatan mutu, tetapi peningkatan pemerataan mutu, semua harus diratakan. Kemudian yang ketiga penguatan tata kelola pendidikan. Ini ingin menguatkan satuan-satuan pendidikan yang ada di Kabupaten Sleman itu supaya dikelola dengan baik. Kalau pengelolaan sudah kuat, sudah baik, insyaallah di dalam memberikan layanan kepada masyarakat tentu juga baik,” tandas Ery.
Upaya tersebut tentunya tidak terlepas dari pemanfaatan kemajuan teknologi secara bijak. Ery menuturkan, kemajuan teknologi sangat berdampak positif dalam proses pembelajaran peserta didik. Namun dalam penerapannya, diperlukan pengawasan yang tepat baik dari orangtua siswa maupun guru, agar siswa tidak terjerumus ke arah negatif.
Jika menilik ke belakang, Ery menjelaskan perkembangan pendidikan dari tahun ke tahun telah banyak mengalami perubahan, khususnya dalam penerapan metode pembelajaran yang disesuakan dengan kemajuan teknologi. Ia menyebutkan sejumlah metode pembelajaran yang pernah diterapkan, mulai dari CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Kemudian metode CTL (Contextual Teaching and Learning), atau kurikulum berbasis kompetensi yang mengharuskan para peserta didik memiliki kompetensi dan selalu aktif.
Selanjutnya metode EEK (Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi). Sesudah itu, beralih ke kurikulum satuan pendidikan dengan metode discovery learning atau model pembelajaran yang menuntut guru dan siswa untuk sama-sama aktif dalam proses belajar-mengajar. Lalu kini penerapan kurikulum merdeka.
Kurikulum ini tidak hanya menekankan keaktifan para peserta didik, tetapi juga mendorong inovasi dan kreatifitas siswa untuk menghasilkan sebuah karya sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya. Di samping itu, pihak sekolah pun dituntut agar selalu aktif mewadahi hasil kreasi siswa-siswinya dalam sebuah gelaran bernama ‘panen karya’. Program tersebut sebagai sarana untuk menunjukkan sejauh mana pihak sekolah telah memberikan pendampingan terhadap pengembangan minat bakat masing-masing peserta didik.
“Akhirnya sekarang kurikulum merdeka membentuk profil pelajar Pancasila, juga anaknya aktif. Arahnya mengembangkan minat, bakat, dan potensi anak. Jadi kalau kurikulum merdeka itu adalah kurikulum pembelajaran yang dinamakan pembelajaran berdiferensiasi atau pembelajaran yang memperhatikan individu peserta didik. Anak itu punya minat apa, punya bakat apa, itu harus dikembangkan,” ujar Ery.
“Sekolah harus punya kreatifitas, minat bakat individu itu harus menjadi perhatian, sehingga dari hasil pembelajaran kurikulum merdeka, dengan dimensi-dimensi yang sudah berdasarkan profil pelajar Pancasila itu, nanti kan hasilnya disetiap akhir semester pasti akan ditampilkan. Itu yang namanya panen karya. Setiap semester pasti akan ada pentaslah walaupun kecil-kecilan, itu anak-anak harus menampilkan hasil karyanya tadi,” tandasnya.
Selain pihak sekolah, Pemerintah Kabupaten Sleman pun turut memberikan ruang bagi para pelajar untuk mengekspos hasil karyanya melalui ajang School Expo. Gelaran ini menyasar seluruh sekolah di Kabupaten Sleman, mulai tingkat PAUD, SD, hingga SMP.
“Kami juga di Kabupaten Sleman juga pingin bahwa sekolah-sekolah itu punya media untuk memamerkan itu. Sehingga setingkat kabupaten kami membentuk yang namanya School Expo, ini dilaksanakan satu tahun sekali. Di mana, ini sudah tahun ketiga School Expo berlangsung. Ajang ini memamerkan seluruh hasil karya peserta didik yang ada di Kabupaten Sleman baik jenjang PAUD, SD, dan SMP,” jelas Ery.
Dengan begitu, Ery berharap seluruh masyarat turut berpartisipasi aktif mengembangkan dan memajukan pendidikan generasi bangsa. Sebab, peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah ataupun para pemangku kebijakan semata, tetapi dibutuhkan kolaborasi yang baik dengan para tenaga pendidik, orangtua siswa, hingga masyarakat luas.
“Jadi tidak bisa, keluarga, orangtua, keluarga, masyarakat hanya mengandalkan pendidikan anaknya di sekolah saja. Karena waktu di sekolah itu sangat terbatas, apa yang ditanamkan di sekolah tentunya harus ditindaklanjuti untuk mendapatkan pendampingan di keluarga dan dimasyarakat,” tutur Ery.
“Tentunya mari kita bersama-sama, dari sekolah, pemerintah, keluarga, dan masyarakat wujudkan Indonesia generasi emas, generasi yang cerdas dan yang luar biasa untuk menuju Indonesia yang lebih baik,” tandasnya.
*
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi kontak di bawah ini.
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman
Phone : (0274) 868405
Fax : (0274) 868945
Views: 0