Siaran Pers No. 12/KOMINFO/2024
Selasa, 30 April 2024
tentang
Sumbang 30% PAD, Sektor Pariwisata Jadi Kontributor Terbesar Peningkatan Ekonomi Sleman
Pariwisata menjadi kontributor terbesar dalam pembangunan dan peningkatan perekonomian Kabupaten Sleman. Dinas Pariwisata Sleman mencatat sebesar 30% Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sleman berasal dari pariwisata.
Diketahui pemasok paling besar pendapatan ini berasal dari pajak usaha pariwisata meliputi pajak hotel, restoran, serta hiburan. Hal tersebut menegaskan bahwa bidang pariwisata masih menjadi unggulan Kabupaten Sleman.
“Jadi dari sektor pariwisata itu menyumbang pendapatan asli daerah Sleman itu nomor dua setelah pajak bumi dan bangunan,” kata Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Ishadi Zayid, dalam siniar Beranda Sleman, Sabtu (27/4/2024).
Sebelumnya, pariwisata Sleman sempat terpuruk akibat pandemi. Namun mulai tahun 2022, pariwisata Sleman mengalami peningkatan. Memasuki tahun 2023, pariwisata Sleman semakin bergeliat. Kemajuan ini tentunya didorong dengan kolaborasi dan sinergi antara Pemkab Sleman, pelaku pariwisata, serta stakeholder. Hal ini menjadi kunci dalam memajukan community base tourism.
Ishadi mengatakan, okupansi hotel-hotel di Sleman telah membaik. Hal ini dilihat dari low season yang mencapai 50 hingga 60 persen.
“Berdasarkan informasi konfirmasi dengan teman-teman PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), okupansi hotel kita sudah membaiklah. Bahkan di low season itu sekitar 50-60%. Itu di low season kemarin dari teman-teman di PHRI,” kata Ishadi.
Terkait objek wisata, Pemkab Sleman mengembangkan potensi desa wisata sebagai community base tourism atau konsep pariwista yang berbasis masyarakat. Objek wisata ini menyuguhkan beragam aktivitas masyarakat desa kepada para wisatawan, seperti bercocok tanam, gotong-royong, hingga kegiatan yang sifatnya budaya atau tradisi warga lokal.
Dinas Pariwisata Sleman mencatat saat ini ada sekitar 80 desa wisata di Sleman. Jumlah tersebut terdiri dari 12 desa wisata mandiri, 17 desa wisata maju, sementara sisanya merupakan desa wisata rintisan dan perkembangan.
“Sementara ini yang tercatat di kami itu ada sekitar 80 desa wisata, dengan kategori desa wisata mandiri itu ada 12. Kemudian yang maju itu ada sekitar 17, lebihnya rintisan dan perkembangan. Nah ini yang maju dan mandiri inilah yang kemudian bisa menggerakkan perekonomian warganya,” tutur Ishadi.
Optimalisasi peran desa wisata bagi perekonomian sangat didorong Pemkab Sleman. Setiap tahunnya, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman gencar melakukan pendampingan serta pembinaan kepada pengelola desa wisata. Mengingat, pariwisata tidak melulu mengenai atraksi ataupun destinasi wisata, melainkan kesiapan sumber daya manusia dalam mengelola destinasi tersebut.
Ishadi menambahkan, dalam setahun pihaknya melakukan pembinaan sebanyak 30 kali. Adapun bentuk pembinaan yang diberikan berupa pemasaran atau digital marketing, produksi lokal, kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga sertifikasi kepada pelaku wisata.
“Pembinaan kepada desa-desa wisata entah itu pemasaran digital marketingnya, kemudian produksi lokalnya. Terus bagaimana kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusianya. Itulah yang kita lakukan satu tahun bisa hampir 30 kali kita melakukan pembinaan itu. Belum lagi kita melakukan sertifikasi-sertifikasi kepada pelaku pariwisata,” ungkap Ishadi.
Tidak hanya menyajikan destinasi wisata, Dinas Pariwisata Sleman juga menggencarkan promosi wisata melalui berbagai event besar yang diselenggarakan tiap tahunnya. Salah satu event yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Sleman ialah Sleman Temple Run.
Acara ini merupakan event lari lintas alam internasional dengan konsep berbeda yaitu berlari melintasi kawasan candi-candi, serta beberapa situs purbakala maupun objek wisata alam yang terletak di wilayah Kabupaten Sleman.
Pada November 2023 lalu, pelaksanaan Sleman Temple Run diikuti sebanyak 1600 peserta dari 22 negara. Di samping berlari melintasi trel, peserta juga disuguhi atraksi budaya lokal di sekitar venue.
“Sleman Temple Run yang kita gelar kemarin di bulan November itu, ada sekitar 1600 peserta yang itu dari 22 negara. Lari trel dengan melintasi beberapa destinasi candi yang ada di sekitar Prambanan. (Lari) naik turun bukit dengan disuguhi atraksi budaya lokal di setiap water station. Sehingga peserta itu di samping berolahraga dia juga mendapatkan experience dengan destinasi yang ada maupun budaya lokal yang kita tampilkan di sekitar venue,” kata Ishadi.
Saat ini Pemkab Sleman tengah fokus mengembangkan potensi wisata di wilayah Sleman barat, yang merupakan daerah pertanian dan menjadi penyangga pangan di DIY. Oleh karena itu, jenis pariwisata yang dikebangkan ialah agrowisata yang tidak merusak lahan pertanian secara masif.
“Kalau pariwisata di Sleman tahun 2024 saya rasa bagaimana kita menggerakkan pariwisata di sektor Sleman barat. Itu menjadi konsen kita, sehingga nanti Sleman barat akan kebagian pariwisatanya. Ini kita coba kembangkan,” tutur Ishadi.
Ishadi berharap, pelaku wisata dan masyarakat dapat terus bersinergi mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Tentunya dengan tidak merusak alam dan budaya lokal.
“Untuk masyarakat Sleman dan pelaku pariwisata, saya hanya berpesan bahwa wujudkan pariwisata menjadi lokomotif perekonomian, dan wujudkan juga pariwisata yang berkelanjutan. Sehingga jangan sampai pariwisata itu merusak alam dengan budaya juga. Maka kemudian mari kita wujudkan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggungjawab,” ungkap Ishadi.
Dinas Komunikasi dan Informatika Kab. Sleman
Phone : (0274) 868405
Fax : (0274) 868945
Email : [email protected]
Views: 0