Siaran Pers No.7/KOMINFO/2024
Tentang
Nguri-uri Budaya Sleman Lewat Partisipasi Masyarakat
Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman mencatat, setidaknya ada 1528 kelompok seni yang tersebar di 17 kapanewon dan 86 kalurahan se-Kabupaten Sleman. Kelompok seni ini terdiri dari beragam jenis seni budaya. Untuk tahun 2023 aktivitas budaya yang paling mendominasi dari seluruh kelompok seni ialah seni tradisional, khsusunya seni religi. Adapun jenis seni religi itu di antaranya kubro, pedbui, hadroh, hingga jathilan.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kebudayan) Sleman, Edy Winarya mengatakan kondisi ini menunjukkan tingginya keterlibatan masyarakat dalam rangka nguri-uri atau melestarikan budaya lokal. Tingkat partisipasi masyarakat dapat ditinjau dari beberapa indikator. Pertama banyaknya surat yang ia terima untuk menghadiri acara seni budaya yang diadakan masyarakat. Kedua jumlah proposal permohonan fasilitas pementasan maupun sarana prasarana lainnya bagi kelompok seni Kabupaten Sleman.
“Proposal fasilitasi kelompok seni ini menjadi indikator. Banyak, dalam satu bulan bisa masuk proposal fasilitasi pementasan itu lebih dari 150. Ini survei animo masyarakat ini tinggi,” ungkap Edy dalam siniar Beranda Sleman, Sabtu (24/2/2024).
“Artinya masyarakat kan sadar sebenarnya apa kebutuhan di dalam rangka pelestarian, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan seni di Kabupaten Sleman,” sambungya.
Lebih lanjut dalam rangka pelestarian seni budaya, Pemerintah Kabupaten Sleman terus memberikan sokongan berupa bantuan fasilitas sarana prasarana, pementasan, pembinaan, serta peningkatan SDM. Namun bantuan itu hanya akan diserahkan kepada kelompok seni yang telah memiliki NIK (Nomor Induk Kebudayaan).
“Saya jelaskan bahwa persepsi bantuan dari pemerintah yang sekarang ini tidak dibantukan kepada perorangan, tapi ke kelompok. Otomatiskan harus bikin kelompok, dilegalkan, harus punya NIK, nah baru proposal, ditujukan ke pada Bupati. Ceki kepala dinas atau langsung kepala dinas gak papa. Itu harus dilegalkan, harus diketahui oleh lurah dan panewu. Baru dikaji, ini harus difasilitasi tidak,” ungkap Edy.
Pada Desember 2023 lalu, Pemkab Sleman melalui Kundha Kabudayan Sleman menyerakan hibah 20 perangkat gamelan kepada kelompok masyarakat budaya se-Kabupaten Sleman. Hibah ini bersumber dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Dana Keistimewaan, yang diberikan oleh Pemerintah DIY.
Setiap kabupaten di Yogyakarta memperoleh Dana Keistimewaan dengan nominal yang sama. Dana tersebut digunakan untuk kepentingan kegiatan pembinaan kelompok seni masing-masing Kabupaten.
“Permohonan gamelan yang kita fasilitasi di tahun 2023 ini adalah proposal yang masuk tahun 2019. Berarti kan numpuk yang 2020, 2021, dan 2023. Makanya ini stagnan hampir 150 proposal,” kata Edy.
Menurutnya, antusiasme masyarakat Sleman dalam melestarikan budaya sangat fundamental. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 terkait dengan kemajuan kebudayaan, dijelaskan bahwa dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya, pemerintah tidak bisa mengatasinya sendiri. Perlu dukungan dan sinergitas dari berbagai pihak termasuk kelompok seni, baik itu dalam bentuk sanggar, paguyuban, dan lain sebagainya. Kelompok seni inilah yang sokoguru dalam pelestarian budaya lokal. Namun dalam perjalananannya, keberadaan sanggar seni memiliki dinamikanya masing-masing.
Edy menganalogikan bahwa sanggar seni merupakan sebuah sekolahan. Di dalamnya terdiri dari siswa yang aktif dan pasif. Sanggar seni yang aktif akan selalu mengusulkan berbagai program kegiatan budaya. Antusiasme ini tentunya didukung Pemkab Sleman dengan memberikan ruang terbuka lebar bagi para seniman atau pelestari budaya Bumi Sembada untuk berekspresi sekaligus mengeksplor bakat seni yang dimiliki.
“Kita kan juga nggak harus memfasilitasi semua, karena aturannya kan periodesasinya dalam satu anggaran satu, kecuali itu dibutuhkan pemerintah,” tuturnya.
Pemerintah daerah juga menyediakan panggung bagi masyarakat untuk bisa mengenal lebih jauh seni budaya Sleman. Ikhtiar ini diwujudkan melalui ragam festifal seni yang diselenggarakan dengan menyasar masyarakat dari berbagai usia.
Edy menambahkan program yang dilaksanakan Kundha Kebudayan Sleman hampir sepertiganya menyasar anak-anak di 17 Kapanewon se-Kabupaten Sleman. Adapun program tersebut di antaranya Festival Langen Carita, Festival Langen Sekar, Festival Dolanan Anak, lomba mendongeng, esai, film pendek, serta program wayang masuk sekolah.
“Jadi saya di 2023 ini hampir 15 kali wayang masuk sekolah. Minimal anak itu mengenal tokoh, barang 5 atau 2 saja. Inikan filosofi-filosofi ini harus segera ditanamkan, walaupun tidak sebenarnya semuanya masuk. Tetapi minimal upaya kita kan paham. Wayang masuk sekolah ini menjadi bagian dari pengenalan infrastruktur perangkat wayang sampai kepada tata nilai. Karena ceritanya ini mengandung nilai-nilai petuah di dalam kehidupan kita,” katanya.
Beberapa festival tersebut memuat falsalah Jawa yang baik untuk membentuk karakter anak sejak dini. Dengan demikian, festifal tersebut diharapkan bisa memberikan dampak yang signifikan terhadap pelestarian seni budaya di Kabupaten Sleman.
“Optimis saya dengan hal-hal seperti itu. Nah anak-anak ini harus kita tanamkan karakter-karakter itu melalui seni dan budaya,” ungkap Edy.
Views: 0