Sleman – Salah satu hal yang harus menjadi perhatian dalam proses pendataan adalah pengambilan sampel. Sampel penting diambil mengingat proses pendataan biasanya memakan banyak sumber daya, baik itu tenaga, waktu, maupun dana. Dengan pengambilan sampel yang benar, maka sebuah data dapat dikumpulkan yang kemudian diolah dengan tingkat keakuratan yang tinggi.

Hal tersebut yang digarisbawahi oleh Tuti Purnwaningsih, Dosesn FMIPA UII Yogyakarta saat menjadi narasumber dalam Workshop Mengenal Probality Sampling dalam Teknik Pengambilan Sampel yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sleman Sleman di Lab. Komputer Lantai 3 Kantor Diskominfo Sleman, Selasa (1/11/2022).

“Yang menjadi tantangan pengambilan sampel yang tepat untuk menghasilkan data yang akurat,” ungkap Tuti.

Tuti menjabarkan bahwa dalam mengumpulkan data, ada 3 jenis cara yang bisa dilakukan, yaitu observasi, percobaan, dan survei.

“Observasi data sudah ada dan tinggal untuk diamati. Sedangkan untuk percobaan, data yang dibutuhkan belum ada sehingga perlu pembangkitan data. Sementara untuk survei data sudah ada di lapangan, hanya saja untuk survei melakukan kontak, entah telepon, ditemui langsung, wawancara, atau mungkin meminta responden untuk mengisi link survey,” terang Tuti.

Tuti menuturkan bahwa dalam pengambilan data, tujuan utamanya yaitu bagaimana mendapatkan ukuran pemusatan data yang representatif terhadap populasi. “Jadi data yang kita ambil betul-betul menggambarkan populasi. Betapa pentingnya jumlah sampel yang tepat perlu kita terapkan dalam pengambilan sampel,” ujarnya.

Sehingga, lanjut Tuti, sangat besar kemungkinannya saat terjadi kesalahan atau error dalam proses pengambilan sampel, karena sampel yang diambil tidak pasti tepat dan sesuai dengan populasi yang ada. “Karena terkadang metode sampel yang kita gunakan mungkin belum sesuai atau ada error ketika mengambil sampel di lapangan,” ujarnya.

Secara umum terdapat 2 tipe error, yaitu sampling error dan non-sampling error. Penanganan dalam sampling error karena disebabkan jumlah sampel yang diambil, maka cukup dengan tingkatkan jumlah sampel yang diambil. Penanganan non sampling error berdasarkan error responden atau error administratif.

“Semakin jauh dari pusat data, margin error semakin besar artinya kemampuan penduga kita atau kemampuan statistik yang kita lakukan, sampel yang kita gunakan cukup rendah. Ketika margin of error yang diharapkan semakin rendah maka tantangannya adalah meningkatkan jumlah sampel. Selain itu anggarannya cukup tidak, waktu yang kita miliki cukup atau tidak, sumber daya yang kita rekrut sudah cukup atau belum,” tutup Tuti.

Views: 0