Pandu digital yaitu, program yang melibatkan masyarakat umum dengan pemahaman, kemampuan dan kompetensi mendasar terkait literasi digital untuk mendampingi pengembangan teknologi digital di Indonesia. Program ini berangkat dari semakin maraknya penggunaan internet secara langsung melalui handphone yang terlalu bebas. Demikian disampaikan Kasubdit Literasi Digital Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementerian Kominfo, Harry Hartono, dalam acara Seminar Nasional dan Lokakarya Pembentukan Pandu Digital, Kamis (19/9/19) di Ruang Seminar Fisip, UPN Veteran Yogyakarta.

“Program ini bisa jadi solusi pemanfaatan internet secara cerdas, kreatif, dan produktif, serta dapat membantu pemerintah untuk mempercepat terwujudnya masyarakat Informatika Indonesia,” jelasnya.

Lebih lanjut, Harry Hartono juga menuturkan bahwa program pandu digital ini merupakan program yang mulai bergerak pada bulan Maret 2019. Pandu digital telah dilaksanakan di beberapa lokasi, salah satunya di Kabupaten Sleman.

Harry membeberkan dewasa ini penetrasi internet di wilayah Indonesia belum merata antara wilayah urban rural (kota dan kabupaten) dan rural (daerah terpencil). Akan tetapi, berdasar penelitian Ernest & Young, bisnis ecommerce di Indonesia khususnya untuk industri UMKM (Usaha Kecil dan Menengah) justru menunjukkan peningkatan sebesar 40% setiap tahunnya.

“Pemerintah terus berupaya mendukung masyarakat agar memanfaatkan ecommerce untuk meningkatkan daya saing dan kesejahteraannya tentunya ini terkait dengan cita-cita Indonesia yang pada tahun 2020 nanti menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara,” ungkap pria yang hadir mewakili Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo ini.

Pengembangan ekonomi digital ini jugalah yang tengah digadang-gadang oleh Kabupaten Sleman. Eka Suryo Prihantoro, Kepala Dinas Kominfo Sleman, dalam paparannya menyampaikan bahwa selama ini Kabupaten Sleman sebenarnya telah menerapkan program pandu digital di beberapa sektor, salah satunya di sektor ekonomi.

“Kami punya Rumah Kreatif Sleman yang di dalamnya memiliki layanan pendampingan, pembinaan, dan pengembangan UMKM di Kabupaten Sleman untuk Go Modern, Go Digital, dan Go Online agar UMKM menjadi semakin berdaya dan berkualitas,” papar Eka.

Disampaikan Eka, hingga Agustus 2019, ada 1452 UMKM di Sleman yang terdaftar di Rumah Kreatif Sleman. Dari jumlah itu, setidaknya 409 UMKM telah terdaftar di blanja.com dengan jumlah transaksi hingga 864,4 juta rupiah dan 14.353 item terjual.

RKS juga melakukan berbagai pelatihan untuk peningkatan kapasitas, kreativitas, dan daya saing dari masing-masing UMKM. Sampai saat ini, RKS telah melaksanakan 344 pelatihan dari bulan Agustus 2017.

Tak hanya itu, Sleman punya program inovasi bertajuk cariaku. Menurut Eka, Cariaku adalah sistem pencarian Industri Kecil Menengah (IKM) Unggulan yang ada di Sleman.

“Tersedia dalam versi website dan juga aplikasi yang dapat diunduh di Google Playstore jadi kalau wisatawan ingin mencari oleh-oleh atau cinderamata langsung dari pengrajin IKM bisa mencarinya lewat aplikasi ini,” beber Eka.

Eka menambahkan, selain dua program di atas Kabupaten Sleman sebenarnya punya program-program lain, seperti Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT), Satuan Karya Komunikasi dan Informatika (Saka Kominfo), dan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). Dua program terakhir adalah program yang dijalankan oleh Dinas Kominfo Sleman.