Perwakilan Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Sembada Kabupaten Sleman melakukan studi banding berkaitan dengan pengelolaan KIM bersama perwakilan Forum KIM Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Kulon Progo, Senin (14/10/2019). Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini mengambil objek studi banding di KIM Makarti yang terletak di Padukuhan Kepek I, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul.

Turut hadir dalam kegiatan ini Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Kominfo Sleman, Noor Hidayati, Kepala Seksi Pengelolaan Informasi Publik, Yudiarto Setiawan, Ketua I forum KIM Sembada Kabupaten Sleman, H. Suripto, Ketua II, H. Suharno, serta Sekretaris, Adnan Iman Nurtjahjo.

Dalam sambutan pembukanya, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Kominfo DIY, Rahmat Sutopo mengutarakan bahwa dipilihnya KIM Makarti sebagai tujuan pembelajaran bagi KIM kabupaten lain di wilayah DIY karena dirasa sudah layak dan lebih maju dibanding dengan KIM daerah lain.

“Semoga hasil tukar kawruh hari ini dapat menginspirasi untuk memajukan KIM di daerahnya masing-masing sesuai dengan kondisinya dan sumber daya yang dimiliki,” pesan Rahmat.

Pemaparan materi disampaikan oleh tiga narasumber antara lain, Ketua KIM Makarti, Siti Nurjanah, Kepala Padukuhan Kepek I, Sukirno, serta pegiat media sosial, Nunung Elisabet. Dalam uraiannya, Siti mengungkapkan beberapa program kerja yang dilakukan KIM Makarti yang pada awalnya terjadi pro kontra di masyarakat. Setelah melakukan sosialisasi dan pendekatan melalui kegiatan kemasyarakatan, akhirnya gagasan pengurus KIM Makarti dapat diterima masyarakat karena memang bertujuan untuk kemajuan Dusun Kepek I dengan ditandai diraihnya beberapa penghargaan kejuaraan.

Sukirno menambahkan, rencana besar KIM Makarti adalah mewujudkan Dusun Kepek I menjadi Kawasan pertanian terpadu perkotaan. Diawali dengan dijadikannya sebagai pilot projek Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gunung Kidul dengan membuat rumah bank sampah yang dinamai Haksa Muda karena bekerjasama dengan karang taruna wilayah setempat.

“Kegiatan yang kita sebut sedekah sampah ini melakukan pemilahan sampah yang mempunyai nilai ekonomis untuk dikumpulkan dan dijual. Hasil penjualan sampah dikembalikan pada masyarakat dalam bentuk polybag, bibit tanaman dan kompos yang dibagikan secara cuma-cuma untuk dimanfaatkan warga,” tegas Sukirno.

Selain sedekah sampah juga terdapat banyak terobosan yang dilakukan KIM Makarti untuk menjaga lingkungannya dan mensejahterakan anggotanya. Kegiatan tersebut adalah efisiensi pemanfaatan air, pemanfaatan tanah makam untuk ditanami buah sirsat dan pepaya, serta pemanfaatan ban bekas yang dijadikan pot untuk menanam sayuran guna menambah ruang terbuka hijau dan menambah keindahan lingkungan Dusun Kepek I.

Di akhir studi banding, Nunung Elisabet mengulas beberapa hal mengenai aturan main iklan di media online yang ditujukan untuk mempromosikan produk-produk KIM agar dikenal, diminati dan dibeli guna meningkatkan kesejahteraan anggotanya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Parartaguna)