Sleman – Teknologi informasi yang semakin berkembang ke ranah digital menyebabkan perubahan pola hidup di masyarakat. Kemudahan yang ditawarkan dunia digital, memaksa berbagai macam sektor kegiatan, usaha, maupun pelayanan harus dapat beradaptasi, agar dapat memberikan hasil yang maksimal, termasuk dalam berbisnis dan sektor keuangan

“Di dunia bisnis dikenal dengan kewirausahaan digital (digital entrepreaneurship), sementara di sektor keuangan dikenal dengan istilah keuangan digital (financial digital),” jelas Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sleman, Eka Suryo Prihantoro saat menjadi pembicara dalam kegiatan Digital Entrepreaneurship Academy yang diselenggarakan di Aveon Hotel Yogyakarta, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Rabu (24/11/2021).

Eka mengatakan bahwa pergeseran dari cara konvensional menjadi digital membuka kesempatan kepada para pelaku usaha dalam menerapkan inovasi-inovasi baru. “Seperti cara baru menemukan pelanggan, merancang dan menawarkan produk dan pelayanan, dan juga dapat menghemat biaya. Dengan cara digital juga memberikan peluang baru dalam berkolaborasi dengan berbagai platform maupun mitra,” ujarnya.

Ekosistem kewirausahaan digital ini juga didukung dengan keuangan digital (financial digital), yang hadir dari perkembangan Financial Technology (Fintech). Menurut Eka, fintech adalah inovasi yang hadir pada industri keuangan dengan memanfaatkan penggunaan teknologi.

“(Fintech) menggunakan teknologi untuk mempercepat dan mempermudah layanan keuangan yang disediakan,” jelasnya. Eka menjabarkan Fintech ke dalam 5 kategori, yaitu crowdfunding, microfinancing, P2P Lending Service, Market Comparison, dan Digital Payment System.

Keuangan digital tersebut berperan sebagai sumber pembiayaan usaha (modal) dalam berwirausaha secara digital, dan berperan dalam inklusi keuangan. “Seperti memberikan kemudahan dalam mengakses berbagai layanan keuangan, dapat menjangkau UMKM hingga daerah terpencil, menawarkan akses pembiayaan yang lebih cepat dan mudah, serta dapat memberdayakan UMKM dan ekonomi lokal,” tutur Eka.

Eka juga berpesan agar semua kemudahan yang ditawarkan keuangan digital tersebut dalam berbisnis juga diikuti dengan literasi informasi yang mendalam, seperti mengenai legalitasi dari layanan, memahami syarat dan ketentuan, memperhatikan mekanisme dari penggunaan layanan, serta dapat menggunakan dengan benar sistem tingkat kepercayaan terhadap penyedia layanan (bintang dan review).

“Yang penting (keuangan digital) digunakan sesuai dengan kebutuhan,” tutup Eka.