Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia pada tahun 2016, menunjukkan ada 6 jenis konten internet yang paling banyak diakses oleh para pengguna internet di Indonesia. Di posisi teratas, yakni 129,2 juta pengguna internet mengakses media sosial. Kemudian disusul oleh 128,4 juta pengguna yang mencari konten hiburan saat berselancar di internet. 127,9 juta pengguna mencari konten berita. Pengguna sebanyak 124,4 juta menelusuri konten pendidikan. Lalu, 123,5 juta pengguna memilih konten komersial dan di urutan keenam terbanyak ada 121,5 juta pengakses konten layanan publik.

Fenomena ini memperlihatkan penduduk Indonesia dapat dengan mudah memeroleh berbagai jenis informasi yang dibutuhkan melalui internet. Di sisi lain, ini menjadi kewaspadaan pemerintah mengingat informasi yang tersebar di dunia maya bisa saja mengandung unsur negatif.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sleman, Intriati Yudatiningsih menyampaikan bahwa konten negatif ada banyak macamnya. “Ujaran kebencian, kekerasan, pornografi, perang ideologi, konsumerisme, sinis, pesimis, narsis adalah beberapa yang bisa kita sebut sebagai konten negatif,” ujar Intri saat ditemui dalam acara Focus Group Discussion, Rabu (24/1) di Aula Unit I Pemda Sleman.

Intri menjelaskan, dewasa ini bukan hal yang sulit untuk menyebarkan berbagai konten negatif tersebut di media sosial bahkan media lainnya. ”Kita dihadapkan dengan masalah penyebaran kebencian, pornografi, penyalahgunaan narkoba, perjudian, prostitusi, radikalisme, dan perdagangan manusia, serta yang terakhir adalah hoax.Semuanya itu ada di media, ada di internet, ada di media sosial, dan ada di telepon selular kita,” urai Intri.

Intri menggarisbawahi bahwa pemerintah sendiri melalui Presiden Joko Widodo, terus berupaya memerangi adanya penyebaran konten negatif di media, khususnya hoax. Oleh karena itu, agar upaya ini dapat membuahkan hasil, menurut Intri penduduk Indonesia perlu melek terhadap media. “Melek media atau literasi media ini kemampuan untuk menyaring, memilah, memilih, dan memproduksi pesan-pesan yang terdapat dalam media cetak, media penyiaran, media online, dan media sosial,” jelas Intri. Karenanya, diperlukan kompetensi di bidang komunikasi yang di dalamnya terdapat kemampuan untuk mengakses, menganalisis, dan mengevaluasi informasi dalam beragam bentuk.

Ditambahkan Okto Lampito, Pimpinan Redaksi Kedaulatan Rakyat, untuk menangkal masuknya unsur negatif pada pemberitaan yang ada di Indonesia, media massa kini sudah mendapat dukungan penuh dari masyarakat. “Di masyarakat tingkat bawah bahkan sudah ada pasukan anti cyber,” beber Okto.

Meski demikian, Okto mengakui bahwa media massa masih memiliki kelemahan terutama jika sudah afiliasi politik. Apalagi Kabupaten Sleman dengan karakteristik masyarakat perkotaan maupun pedesaan, penduduk yang beraneka ragam baik pribumi maupun pendatang, di mana sebagian besar masyarakatnya merupakan kaum cendekiawan/akademisi, namun di sisi lain kadang mudah adanya provokasi dan dipengaruhi untuk mencari identitas kelompoknya.

“Hal ini membuat pembaca maupun penonton menjadi bingung. Selain itu pemberitaannya juga cenderung hanya di permukaan saja dan bisa menimbulkan salah pengertian. Apalagi saat ini banyak bermunculan media baru yang tidak jelas. Baik dari pemberitaan maupun sumber daya manusianya,” kata Okto.

Namun tetap saja, menurut Okto pemberitaan media massa memiliki peran bagi penegakan hukum. “Untuk mencerdaskan masyarakat, juga mengembangkan wacana demokrasi, begitu seharusnya,” jelasnya.