Sleman – Strategi untuk mewujudkan Sleman sebagai kabupaten cerdas terus diformulasikan, salah satunya ialah pembentukan aplikasi online pada masing-masing program yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Sleman. Terkait hal itu Widiyawan, Direktur Sistem dan Sumberdaya Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan masukan terhadap beberapa inovasi-inovasi yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Sleman untuk menuju smart city. Masukan Widyawan ini dia utarakan dalam Paparan Implementasi Program Smartcity, Rabu (08/05/2019) di Sleman Smart Room Diskominfo Sleman.

Widiyawan mengatakan bahwa pengimplementasian program smart city dengan melakukan pengintegrasian dari beberapa perangkat pelayanan publik dalam satu aplikasi, telah sesuai dengan visi misi Sleman. Namun yang terpenting dalam melakukan integrasi ialah harus adanya kebijakan yang jelas. Misalnya dalam hal membuat aplikasi harus ada kebijakan mengenai pihak yang berhak membuatnya.

Widiyawan juga memberikan contoh terkait dengan pengintegrasian dari beragam pelayanan publik dalam satu aplikasi yang akan diciptakan nantinya. “Contoh UGM, aplikasinya satu bernama SIMASTER. Disitu berisi semua bentuk pelayanan kampus. Seperti pelayanan Kuliah Kerja Nyata, pajak, hibah penelitian, dan lain sebagainya. Dimana semua itu tersedia dalam satu pintu,” tukasnya.

Sebagai evaluator, Widiyawan menambahkan beberapa masukan terhadap pemerintah kabupaten Sleman mengenai program Smart City ke depannya. Di antaranya pertama harus ada keselarasan antara kebutuhan/problem Sleman dengan aplikasi yang dikembangkan. Kedua perlu ada kurasi aplikasi/sistem. Ketiga penting untuk melakukan smart branding. Keempat ialah input problem, dapat dilakukan menggunakan analisis media, contohnya Lapor Sleman. Dan yang terakhir adalah untuk air minum dan air limbah dapat menggunakan sensor Internet of Things (loT) dalam pemantauan di tempat yang diprioritaskan.

Selain Widyawan dari UGM, Paparan Implementasi Program Smartcity kali ini diisi dengan paparan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) mengenai program smart city yang berjalan di lingkungan masing-masing.

Dibuka pertama oleh Dinas Pertanahan dan Tata Ruang dengan penyampaian tiga poin utama yakni smart government, smart branding, dan smart living, yang diwujudkan dalam tiga program diantaranya sistem informasi tata ruang, geoportal, serta sistem informasi rekomendasi tanah desa dan kesultanan.

Dilanjutkan oleh Dinas Lingkungan Hidup, dengan menguraikan bahwa pihak mereka juga telah melakukan beberapa inovasi terkait dengan Smart Regency diantaranya ialah pembentukan kelompok sampah mandiri, pelayanan sistem Lapor Sleman, pengelolaan website, pembayaran retribusi sampah secara online, dan patroli sampah liar. Beberapa inovasi tersebut telah berbasis online/menggunakan aplikasi yang bertujuan untuk memudahkan masyarakat agar tidak perlu datang ke DLH.

Terakhir BKPP memaparkan bahwa mereka telah menghadirkan sejumlah program yang juga berbasis aplikasi. Salah satunya ialah pengembangan sistem informasi pegawai dan mutasi pegawai berbasis web dan aplikasi android.(Rep Bilqis)