Sleman – Menjelang pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2022 beriringan dengan maraknya kasus penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) hewan ternak mendekati Hari Raya Iduladha pada masa penerapan PPKM Level 1, Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman mengadakan jumpa pers untuk menyebarluaskan informasi terbaru terkait dengan ketiga hal di atas yang diselenggarakan di Pendopo Parasamya Sekretariat Daerah Sleman, Kamis (9/6/2022).

Hadir sebagai narasumber, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Ery Widaryana, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Cahya Purnama, serta Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, SRS. Nawangwulan.

Jumpa pers yang dilakukan untuk pertama kali pasca Hari Raya Idulfitri ini, dimoderatori Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Sleman, Eka Suryo Prihantoro. Dalam kesempatan tersebut, Eka mengatakan bahwa jumpa pers kali ini mengangkat informasi penting terkait dengan pelaksanaan PPDB tahun 2022, fenomena penyebaran PMK di Kabupaten Sleman, dan juga perkembangan terkini terkait vaksinasi serta Covid-19 di Kabupaten Sleman, yang penting diketahui masyarakat.

Informasi pertama terkait dengan PPDB 2022, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Ery Widaryana memaparkan jika pelaksanaan PPDB tahun ini tetap mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2021 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejurusan.

Ery juga menambahkan jika mengacu pada Permen Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 tahun 2021 ini, PPDB untuk jenjang SD melalui 3 jalur dan SMP melalui 4 jalur. Untuk PPDB jenjang SMP jalur yang dapat digunakan meliputi jalur zonasi (zonasi radius dan zonasi wilayah), jalur afirmasi (calon siswa dari keluarga miskin dan calon siswa disabilitas), jalur perpindahan tugas orang tua, serta jalur prestasi.

“Mengenai pelaksanaan PPDB, masih mengacu pada Permen Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 tahun 2021, dengan menggunakan 4 jalur untuk SMP, kemudian SD 3 jalur. Kalau yang SD tidak begitu rumit. Namun yang SMP masih menggunakan 4 jalur yaitu jalur zonasi, jalur afirmasi, jalur perpindahan tugas orang tua, dan jalur prestasi. Untuk jalur zonasi masih dibagi dua, yaitu zonasi radius dan jalur zonasi wilayah. Kemudian yang kedua jalur afirmasi dibagi menjadi dua, jalur afirmasi siswa dari keluarga miskin dan afirmasi calon siswa disabilitas,” jelasnya.

Untuk formasi atau kuota masing-masing jalur diketahui jika jalur zonasi (radius dan wilayah) berdaya tampung minimal 50% dari daya tampung di satuan pendidikan tersebut. Kemudian jalur afirmasi (siswa KK miskin dan disabilitas) berkuota maksimal 15%, dengan rincian 12% untuk jalur afirmasi siswa KK miskin dan 3% untuk siswa disabilitas. Selanjutnya jalur perpindahan tugas orang tua berdaya tampung / formasinya sebesar 5%. Dan jalur prestasi formasinya maksimal 30% dengan rincian 25% untuk penduduk Kabupaten Sleman, dan 5% untuk penduduk luar Sleman.

Terdapat perubahan dalam pelaksanaan PPDB tahun ini, jika pada PPDB tahun lalu pelaksanaan penerimaan siswa baru melalui keempat jalur tersebut dilaksanakan secara serentak atau bersamaan, maka pada tahun ini diubah dengan menyelesaikan selain jalur zonasi wilayah. Sehingga PPDB jalur zonasi wilayah dilangsungkan diakhir.

“Kemudian perlu kami (Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman) sampaikan ada perubahan mendasar terkait dengan PPDB ini, kalau tahun lalu keempat jalur tersebut kami jadwalkan berlangsung bersama-sama. sehingga mungkin dari masyarakat ada yang merasa bingung karena harus memilih melalui jalur apa. Di tahun 2022 ini kami rubah untuk jalur selain zonasi wilayah kami selesaikan dulu. Jadi jalur zonasi wilayah itu kita lakukan terakhir. Karena nanti jika masih ada sisa kuota zonasi, maka akan ditambah ke kuota zonasi wilayah,” sambungnya.

Informasi kedua terkait dengan penanganan penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan penanganan hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha. Penyebaran virus PMK telah memasuki wilayah Kabupaten Sleman. Situasi terkini penyebaran PMK ditemukan di 12 Kapanewon, yakni Moyudan, Gamping, Tempel, Mlati, Sleman, Ngaglik, Pakem, Ngemplak, Cangkringan, Berbah, Prambanan dan Kalasan. Sampai dengan tanggal 8 Juni 2022 pukul 14.00 gambaran kasus PMK di Kabupaten Sleman yang telah dilaporkan, jumlah kasus 908 ternak. Dari jumlah kasus tersebut, 8 ternak dinyatakan sembuh, 3 ternak mati, dan 897 dalam pengawasan dan pengobatan oleh petugas teknis kesehatan hewan (sakit) dan tidak ada yang dipotong paksa.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, SRS. Nawangwulan, mengatakan dari hasil investigasi di semua titik kejadian penyebab penyebaran PMK di Kabupaten Sleman ditengarai berasal dari masuknya ternak dari luar daerah, pedagang ternak dan alat angkut dari luar daerah, pedagang dan alat angkut dari Kabupaten Sleman yang sempat mengunjungi pasar hewan/lokasi lain di luar Kabupaten Sleman, dan mutasi ternak dalam wilayah Kabupaten Sleman. Hal ini juga didukung dengan sifat alami dari virus PMK yang bisa menyebar melalui udara dengan radius 10 km.

“Hasil investigasi di semua titik kejadian penyebab penyebaran PMK di Kabupaten Sleman ditengarai berasal dari masuknya ternak dari luar daerah, pedagang ternak dan alat angkut dari luar daerah, pedagang dan alat angkut dari Kabupaten Sleman yang sempat mengunjungi pasar hewan/lokasi lain di luar Kabupaten Sleman, dan mutasi ternak dalam wilayah Kabupaten Sleman. Hal ini juga didukung dnegan sifat alami dari virus PMK yang bisa menyebar melalui udara dangan radius 10 km,” ungkapnya.

Nawangwulan juga menambahkan bahwa dari 12 Kapanewaon yang ada temuan kasus PMK, terbanyak ditemukan di Ngaglik dan Sleman dengan jenis hewan ternak yang terserang paling banyak ialah sapi potong.

Mengenai ketersediaan hewan kurban di Kabupaten Sleman, Nawangwulan mengatakan dari tahun ke tahun Kabupaten Sleman harus menambah pasokan dari luar daerah. prediksi kebutuhan hewan kurban tahun ini: sapi (kebutuhan 8.268 ekor, ketersediaan 4.260 ekor dan kekurangan 4.008 ekor), kambing (kebutuhan 2.529 ekor, ketersediaan 2.156 ekor, dan kekurangan 373 ekor), dan domba (kebutuhan 7.082 ekor, ketersediaan 6.029 ekor, dan kekurangan 1.053 ekor).

Dari selisih jumlah tersebut dipastikan akan ada ternak yang masuk dari luar daerah baik lewat supplier/penyedia/pedagang maupun pasar tiban ternak. Pada masa wabah PMK ini mekanisme pemasukan ternak dari luar daerah akan dilakukan dengan persyaratan yang ketat, terutama ternak harus dilengkapi dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) setiap satuan/ekor ternak. Selain itu akan bekerjasama dengan Kepala Wilayah (Kalurahan dan Kapanewon) untuk menertibkan persyaratan bagi pedagang pasar tiban ternak.

Kemudian informasi ketiga terkait dengan kondisi terkini kasus Covid-19 dan capaian vaksinasi di Kabupaten Sleman. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Cahya Purnama menyampaikan bahwa per 8 Juni 2022 di Kabupaten Sleman tercatat hanya ada 1 kasus Covid-19, kemudian shelter kosong, laju penularan 1,25%, per rumah sakit 0,39%, dan kematian 0,08%.

“Bisa kami (Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman) informasikan bahwa tangal 8 Juni ini untuk kabupaten Sleman saat ini tercatat hanya ada 1 kasus kemudian shelter kosong. Untuk laju penularan 1,25%, kemudian untuk per rumah sakit 0,39% (ini sudah dibawah nasional yaitu dibawah 5%). Kemudian kematian 0,08%. Sehingga untuk DIY kita masuk ke rate 1,” jelasnya.

Kondisi kasus Covid-19 saat ini telah melandai, beriringan dengan capaian vaksinasi Kabupaten Sleman yang terus bertambah untuk dosis 1, dosis 2, hingga booster. Berdasarkan data KPC-PEN (Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional) per 5 Juni 2022, total vaksinasi untuk dosis 1 sebesar 101,3%, dosis 2 sebesar 93,6%, dan dosis 3 (booster) sebesar 35,99%.

Sehubungan dengan berlakunya penerapan PPKM Level 1 di Kabupaten Sleman akibat melandainya kasus Covid-19, maka terdapat penyesuaian kebijakan yang diterapkan bagi seluruh masyarakat sesuai dengan instruksi Presiden RI, diantaranya adalah pelonggaran penggunaan masker/dapat tidak menggunakan masker di ruang terbuka yang tidak berkerumun, menerapkan perilaku hidup bersih, sehat, sesuai dengan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), dan vaksinasi booster yang diharapkan agar terus dapat ditingkatkan, untuk dapat mempertahankan kekebalan kelompok komunal.

Dengan demikian melihat kondisi yang ada sekaligus upaya yang telah dilakukan oleh pihaknya dan masyarakat Sleman, Cahya menambahkan kedepannya kondisi Covid-19 akan semakin membaik sehingga dapat menuju ke endemi.

“Jadi persiapan Kabupaten Sleman untuk melaksanakan himbauan dari pusat untuk bersiap-siap sudah kami (Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman) lakukan, dan perhitungan kasus-kasus di Sleman sudah melandai. Sehingga mudah-mudahan nanti kita bisa menuju ke endemi,“ tukasnya.