Dunia animasi Malaysia saat ini lebih dikenal lewat serial Upin Ipin yang sangat populer di Indonesia. Padahal perkembangannya sudah berjalan jauh sejak berpuluh tahun lalu.

Dunia animasi secara global bergerak sangat cepat baik dari sisi teknologi dan gaya cerita. Tapi gerak cepat ini tidak terasa di Indonesia karena industri animasi kita masih belum bergerak dan belum menghasilkan karya-karya yang hebat dan spesial.

Kekayaan budaya dan tradisi Indonesia yang sangat beragam belum tergarap atau diserap sebagai ide dasar cerita animasi sehingga kekhasan karya animasi indonesia tidak muncul. Karya animasi Indonesia saat ini masih berkiblat dari gaya luar seperti gaya anime dari Jepang, gaya Amerika dan sebagainya.

Komunitas kreatif di bidang film, video, dan animasi di Sleman yang tergabung dalam Sleman Creative Community mengundang salah satu tokoh animasi dari Negeri Jiran Malaysia yaitu Hassan Abdul Muthalib untuk berbagi cerita tentang dunia animasi dan perkembangannya di Malaysia dan Asia. Hassan yang dianugerahi gelar Bapak Animasi Malaysia oleh Perdana Menteri Malaysia ini bercerita panjang lebar mengenai perkembangan animasi di negerinya di Sleman Creative Space, Depok, Sleman, Kamis (26/7).

Dari kecil minatnya dalam sinematografi sudah muncul.  “Waktu masih sekolah dulu, saya tidak pernah baca buku pelajaran, saya sukanya baca buku cerita. Tidak heran nilai saya terburuk dan menjadi rekor sekolah,” ungkap Hassan sambil tertawa. Tapi dari situ dia tahu akan minatnya dan kemudian meraih kesuksesan. “Minat adalah modal nomor satu untuk masa depan,” simpulnya.

Hassan Abdul Muthalib adalah seniman otodidak, perancang, animator, sutradara film, penulis dan kadang-kadang aktor. Di usianya kini yang menginjak 73 tahun, dia telah terlibat dalam industri film selama setengah abad, bekerja pada film animasi pendek, iklan, iklan layanan masyarakat, dokumenter dan film animasi pertama Malaysia.

Sebagai penulis kreatif, Hassan telah menulis teks untuk universitas dan untuk Teater Nasional Malaysia. Beberapa filmnya adalah: Sang Kancil & Buaya (Hassan Abd Muthalib, 1987, 2D), Short Cut to Hell (Along. 1996, 2D), Singapura Dilanggar Todak (Alan Aziz. 2000, 2D), Grey Avenue (Eugene Foo. 2003, 2D), Flower of Guernica (Sokhooi Teng. 2008, 3D), Timun Mas (Gatya Pratiniyata. 2009, 2D), Bawang Putih Bawang Merah (Glue Studios. 2012, 3D), Ulek Mayang (Hajar Aznam. 2012, 2D), Alfie & the Prometheus (Mahathir Buang. 2014, Stop-frame).

Sebagai dosen paruh waktu, Hassan telah melakukan sesi pelatihan dan lokakarya tentang film dan animasi di universitas, akademi dan studio animasi ternama, termasuk menjadi moderator silabus. Ia juga telah diundang untuk menjadi dosen dan pelatih di Brunei, Singapura, Sudan, Filipina, Sri Lanka, Indonesia, India, dan Norwegia.

Hassan adalah penerima banyak penghargaan untuk film-filmnya, termasuk Penghargaan Juri di Jakarta untuk film dokumenter pertamanya. Dia diakui sebagai Pelopor Animasi Asia oleh Nanyang Technological University Singapura, dan dianugerahi Master Kehormatan oleh Universiti Teknologi MARA Malaysia. Dia juga telah menjadi juri di beberapa festival film internasional dan telah menyusun program film dan animasi untuk Malaysia, Singapura, Jerman dan Hongaria.

Hassan saat ini adalah kritikus dan sejarawan film. Makalahnya telah diterbitkan dalam buku-buku dan jurnal akademik di antaranya: Lembaga Film Inggris, Tekan Universitas Cornell, MacMillan India, Penelitian Asia Tenggara, Jurnal Komunikasi Asia-Pasifik dan Cahiers du Cinema. Dia telah menyajikan penelitian asli ke seni pertunjukan tradisional sebagai akar sinema Malaysia di konferensi internasional. Sampai saat ini Hassan telah menulis dua buku: Malaysian Cinema in a Bottle (2013) dan Dari Mouse Deer to Mouse: 70 Years of Malaysian Animation (2016).